Cepat Sembuh Indonesiaku

Sore menuju senja, saat hujan mulai menggenangi sebagian kota. Jutaan pasukan langit turun berantakan di timur, sedangkan matahari mulai ingin pergi dengan malu-malu. Aku hidup di kota yang dilewati garis Khatulistiwa. Sebuah anugrah karena hujan turun semau hatinya, tak peduli walau kemarau menghantam daerah lain. Aku sendiri tak pernah mengeluh karena tak pernah merasakan dinginnya salju. Cukup saja hujan yang mendinginkanku, dan cukup matahari yang luar biasa panas untuk menghangatkanku. Aku tak perlu punya baju tebal yang bisa menyelimuti muka sampai mata kaki, atau baju yang bisa memberikan ruang kepada angin pergi dan kembali membelai pipi. Dan aku sangat senang memiliki daerah dengan hutan hijau sebagai penyeimbang pembangunan, walau kini mereka sedang terancam. Sungguh aku tak peduli jika mereka nun jauh disana bilang sedang tinggal di surganya dunia, karena aku hanya tinggal di Indonesia. Negeri yang sangat biasa, saking biasanya, sekarang aku mulai terbiasa mencintainya.


Hai Indonesia, ini surat untukmu.
Hari ini puluhan orang sengaja melupakan hari kasih sayang hanya untuk mengirimkan surat untukmu. Aku baru saja membongkar surat-surat mereka. Sebagian membuatku tertawa, tapi sebagian lagi membuatku melupakan senyumku, dan menangis pilu. Ada banyak kecewa yang terucap saat orang menyebut namamu, tapi tak sedikit pula yang bangga menjadi bagian darimu selama ini.

Ini masih Februari, masih ada beberapa bulan menyambut kelahiranmu di Agustus nanti, tapi rasanya aku ingin mengucapkan selamat untukmu. Entah untuk apapun itu, aku tak tahu. Yang aku tahu ucapan selamat selalu diiringi do’a. Mungkin sekarang kau sedang sakit. Tapi sekarang aku rasa saat yang tepat belajar dari rasa sakit. Beberapa bulan yang lalu, mereka bersatu atas namamu dengan jargon “Kami Tidak Takut”. Lebih jauh kebelakang, sebagian dari mereka juga berteriak “Selamatkan sepak bola kita”. Mengapa mereka selalu mengucapkan cinta ketika kau dirundung musibah? Tidakkah mereka mau selalu merayu dan menggodamu walau nanti kau sedang sehat dan menginspirasi? Apakah kita harus menanam lebih banyak teroris dan kuruptor agar seluruh orang di sini mau bersatu dan membelamu? Tidakkah kita malu dengan tetangga yang selalu saja bisa mencari celah untuk menghina dan menjatuhkan kita? Ah, aku pusing memikirkannya.

Di Beranda facebook akunku tak pernah sepi. Kebanyakan mereka saling serang, merasa paling benar atas apa yang mereka pelajari. Sebagian lagi membagikan berita bobroknya negeri ini seakan mereka peduli. Hanya sedikit yang masih suka membagikan berita tentang luar biasanya dirimu. Kau kalah pamor dengan selebritis yang baru menikah dan melahirkan. Kau juga kalah dengan pertentangan antara golongan satu dan golongan yang lainnya. Mereka lebih memilih menghina dan merendahkan, dari pada memuji dan mencintai. Aku rasa ada yang salah dengan mereka. Bagaimana mungkin mereka merasa merdeka sedangkan yang disebarkan adalah ketakutan dan ketimpangan. Mereka sesungguhnya tidak mencintaimu, melainkan kasihan pada nasibmu.

Kadang aku juga merasa malu karena belum mampu berbuat banyak untukmu. Aku hanya bisa mencoba menciptakan generasi muda melalui mimpi mereka yang kadang sirna oleh sinetron remaja. Jika mereka bertanya tentangmu, aku selalu bilang bahwa kau baik-baik saja. Nyatanya selalu ada kebohongan yang aku ucapkan agar mereka tak mengubah cita-cita dari dokter, guru, pilot, dan polisi, menjadi Warga Negara Asing yang mereka kehendaki. Yang kubisa hanya menceritakan indahnya alammu, dan menginspirasi mereka melalui kisah anak negeri lainnya yang kadang dibuang karena dianggap aneh di negerinya sendiri. Terlalu banyak hal tak penting yang beredar begitu cepat sedangkan mereka yang dari dulu merintis mimpi tak pernah dibantu sama sekali.


Indonesia, maafkan aku. Apapun yang kau risaukan saat ini, Cepatlah sembuh! Aku mencintaimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik