Untuk Kalian Berdua
Mereka tenggelam di
dalam ombak asmara
Memadu kasih mereka di
pantai cinta
Merajut hati berdua di
Oktaria
Pejamkan mata lihat
dia di sana
Buanglah duka demi
cipta cinta
Windu Defrina...
(White Shoes and The
Couple Company – Windu Defrina)
Entah mengapa ketika mendengar lagu di atas aku langsung
teringat kalian berdua. Kadang iseng aku ikut menyanyikannya, dan tentu saja
mengganti liriknya dengan nama kalian. Dan tentu saja aku berdendang sambil
tersenyum dan tertawa. Jika tak percaya, silahkan kalian mencoba. Hehehe...
Eh Haiii..
Aku bahkan belum mengucapkan salam.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Jawab saja dalam hati. Karena jika kalian menjawab dengan
suara, tetap saja percuma karena aku tak bisa mendengarnya. Surat ini aku tulis
buat kalian berdua. Sekali lagi aku tegaskan, UNTUK KALIAN BERDUA. Jika kalian
temukan surat ini dalam keadaan tidak sedang bersama, maka aku sarankan untuk
menutup surat ini sekarang juga. Setuju? *sodorkan jari kelingking*. Eh iya,
kan untuk kalian berdua ya, hehehe... *sodorkan jari kelingking kiri dan kanan*
Surat ini takkan panjang. Aku tak mau mengganggu waktu
kalian yang berharga. Bukankah sekarang kalian sedang sibuk bekerja?
Mempersiapkan masa depan kalian bersama. Itu hal paling romantis yang aku lihat
dari kalian berdua.
Aku tak seharusnya iri dengan kisah kalian. Karena itu bukan
sebuah roman picisan, atau drama telenovela tak bertuan. Kalian hanya sekelumit
cerita yang pernah diciptakan dan indah tak terperikan. Layaknya kisah aku dan
kau menjadi kita, cinta kalian terbilang biasa saja. Yang berbeda mungkin
adalah semua terjadi di depan mataku. Mata penulis diksi asmara. Maka dari itu,
tak bolehlah aku melewatkan untuk menceritakannya kembali dalam dua tiga
paragraf berikutnya, agar kalian mengerti betapa bahagianya aku sebagai teman
jika kalian tetap bergandengan tangan.
Bahasaku di atas mulai meracau, aku takut dody terlalu
berpikir dangkal untuk mencernanya. Hehehe...
Jujur, aku mulai bingung mau menulis apa. Surat ini tak
seperti surat-suratku sebelumnya yang begitu mesra dan penuh duka lara. Tidak
mungkin aku merayu dan memohon kalian untuk sesuatu sedangkan aku cukup bahagia
jika melihat ceria yang kalian tampilkan. Jika pun kisah ini ingin aku
ceritakan kembali, aku bingung harus mulai darimana. Kalian bahkan tak pernah
berkisah tentang hari itu. Hari dimana kalian mengucapkan rindu pertama kalinya,
atau bahagia ketika melihat senyum dan tawa antara satu dengan yang lainnya.
Aku juga tak terlalu berniat menanyakannya. Biarlah semuanya jadi rahasia
kalian, tentu takkan ada nilainya jika semua kisah hidup harus dibagikan.
Eh, kalian berdua masih disitu? Atau salah satu dari kalian
sudah pergi daritadi? Tunggulah sebentar, karena aku sudah berjanji bahwa surat
ini takkan panjang.
Mungkin ini akan terdengar seperti khotbah atau ceramah,
tapi percayalah aku hanya ingin kalian bahagia.
Dody sudah wisuda, sedangkan Mita sudah bekerja. Aku selalu
menganggap ini bukan masalah, tapi mungkin orang lain tidak. Tapi percayalah
satu hal, sesuatu yang disederhanakan itu takkan menjadi penyesalan pada akhirnya.
Jika Dody tak mampu membelikan permata, cukup ikat Mita dengan tali rapia.
Tentu Mita takkan menolaknya jika niat yang diucapkan untuk sakinah, mawahdah,
warrahmah. Tak perlu resepsi hotel bintang lima dan undangan 3000 kepala, cukup
seorang penghulu, wali, dan dua saksi nikah. Itu akan sah di mata agama dan
negara. Jika kalian pikir bulan madu ke Jogja dan Nusa Tenggara terlalu jauh,
maka kota kita punya Tugu Khatulistiwa dan Wisma Siantan Indah sebagai
alternatif lainnya.
Tapi...
Jika memang Dody lelaki yang luar biasa, tentu tidak
sesederhana itu yang akan Mita terima. Aku yakin kalian akan mendapatkan hal
terbaik jika mau berusaha. Ikhtiar dan Do’a, itu adalah kunci dari semua
masalah. *benerin kopiah*
Eh, Surat ini terlalu panjang ya... Maapkan saya...
*sungkem*
Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca surat
ini. Sekarang kalian bisa pergi untuk mengejar mimpi lagi. Tapi ingat satu hal,
jangan pernah remehkan sebuah mimpi. Karena dengan bermimpi, kalian akan terus
gigih dan tak pernah letih. Gak nyambung ya? Apa sih... -__-
Dari Aku, seseorang yang masih kalian panggil teman.
PS: Maap kalo mengambil foto kalian tanpa ijin. Semoga
kalian tidak keberatan. Jika keberatan, coba pikul berdua, niscaya semuanya
jadi ringan. *dilempar sendal*



Komentar
Posting Komentar