Untuk Aku di Masa Lalu

Hey, Apa kabar?
Tenang saja, jika sekarang kau lagi sakit kau pasti belum akan mati. Setidaknya sampai aku menulis surat ini. Hari ini hari Kamis, waktunya setelah sholat maghrib, dan aku baru saja makan tapai singkong goreng tepung. Kau tahu siapa yang membuatnya? Ibu. Iya, Ibu masih hidup sekarang. Jika dia sakit, kau tak perlu khawatir dia meninggalkanmu. Kau rawat saja dia karena dia tidak memiliki riwayat sakit yang berat. Sakitnya mungkin lebih disebabkan oleh pikiran tentang kenakalanmu, kenakalan kita. Dan dia tetap cantik. Kalau sekarang dia di sampingmu, silahkan peluk dia, aku tidak akan cemburu.


Kau terkejut membaca surat ini? Sama, aku juga merasa aneh menulisnya. Jika benar surat ini sampai ditanganmu, entah berapapun umurmu saat ini, berarti tekhnologi sudah luar biasa canggih. Tapi sampai saat ini tidak ada benda, manusia, atau makhluk yang bisa mengirimkannya padamu. Tidak tahu besok, mungkin aku sendiri yang akan pergi mengantarkan surat tepat di depan rumahmu. Eh, aku sekarang di rumah baru, kita tidak lagi tinggal di rumah nenek. Kau pasti sedih bakal meninggalkan kamarmu. Jersey sepakbola pertama kita yang bertuliskan “Del Piero” di atas nomor punggung 10 itu kalau bisa kau simpan dengan baik. Kau tidak akan percaya jika aku beritahu berapa orang akan membayar untuk kaos itu, kamarmu bisa dipenuhi permen jagoan neon.

Sebenarnya aku tidak punya niat untuk menulis surat ini. Tapi entah mengapa ketika aku saling menyapa dengan teman baru yang kurasa penuh ide gila, dia mulai menawarkan tantangan ini. Dan seperti biasa, kita kalah. Senin pagi nanti aku harus menyeduhkan kopi panas untuknya, lengkap dengan stampel tak terlihat di kepala; “pecundang”. Kapan terakhir kita menang kawan? Main kelereng dengan Riska di rumahnya kalau tidak salah. Jelas saja, dia perempuan. Hahaha. Tapi jangan pesimis, dalam perjalanan hidupmu, kelak kau akan banyak menemukan kemenangan, dan kemenangan itu sekarang menjadi kenangan buatku. Bahkan nanti jika salah satu masalah besar sedang terjadi, kau tetap bisa menang. Tergantung dari sisi mana kau melihatnya.

Tentu kau heran dengan gaya menulisku saat ini. Kurasa sejak kita mulai menulis ulang dialog film “Petualangan Sherina” yang sudah puluhan kali ditonton sampai disc yang kedua macet tak ada yang istimewa bukan. Aku masih penulis amatir, menulis untuk kesenangan, dan menikmati sendiri. Juga akan membuangnya ketika ingin melupakannya. Bukankah begitu hidup kita? Hidup hanya untuk hari ini, masalah besok biarkan diri kita yang besok menghadapinya. Kita masih egois, bahkan dengan diri kita sendiri. Terima saja, itulah dirimu, diri kita. Lalu ketika kau mulai mencoba menulis puisi cinta untuk pertama kalinya sejak menonton “Ada Apa Dengan Cinta?”. Kau tahu kawan, dadaku rasanya bergemuruh ketika mendengar mereka mulai mengerjakan sekuel kedua film itu. Dan sekarang lagi proses pengambilan gambar, kalau tidak ada halangan berarti, film itu bakal beredar tahun depan. Kau tahu betapa rindunya aku dengan karakter yang mereka bangun melalui Rangga, Cinta, dan yang lainnya? Entahlah mengapa aku begitu bersemangat menceritakannya padamu. Tapi aku yakin, kau akan mengerti. Buat siapa puisi pertama itu? Aku sudah lupa, hahahaha. Aku yang sekarang adalah pelupa, tapi beberapa hal tidak penting justru sulit untuk dilupakan. Jika aku melupakannya, berarti dia sangat penting.

Kau pasti bertanya seperti apa aku saat ini. Jangan kau risaukan kawan, aku baik-baik saja. Seorang teman yang menantangku menulis surat ini mengajarkan satu hal penting padaku. “Find comedy every tragedy”. Bukan berarti aku yang sekarang tak punya masalah, tentu saja setiap orang dewasa memilikinya. Hanya saja aku akan melihatnya dari kacamata yang berbeda, atau jika perlu aku akan pinjam topeng RX Robo untuk melihat masalah tersebut biar aku bisa menembaknya dengan mudah.

Jika ada orang yang bilang dia tidak menyesal dengan keburukan di masa lalunya, mungkin orang itu munafik. Semua orang pernah dan pasti akan menyesal. Hanya bedanya kita bisa memilih untuk tetap jatuh atau bangkit. Dan jika benar surat ini terkirim dengan baik dan kau baca dengan baik, aku hanya punya satu permintaan untukmu; Berfikirlah dulu sebelum melangkah, itu akan berarti banyak untukku saat ini.

Seberapa pun rasa rindu itu datang menyergap, surat ini tetap harus aku akhiri. Aku tak bisa terlalu bercerita banyak padamu, takut kau terlalu santai menghadapi hidup. Iya, jangan terlalu menganggap semuanya mudah, tapi nikmatilah apa yang ada. Jujur saja aku rindu padamu. Rindu menghabiskan waktu tanpa tantangan yang berarti. Rindu berteriak keras dan semua orang memaklumi. Rindu pada kenangan masa lalu yang tak bisa kubeli dengan berapapun uangku saat ini. Jika saja boleh dan bisa, aku akan memohon padamu untuk bertukar tempat walau sehari saja.

Terima kasih telah membaca ini, jika ibu masih di sampingmu, peluk lagi dia. Aku masih tidak akan cemburu.





PS: Bermainlah semua permainan dimasamu saat ini. Karna permainan di jamanku sekarang, sungguh tidak ada yang keren.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik