Kepalaku pening, sudah daritadi pagi. Mungkin karena rentetetan peristiwa kurang menyenangkan dari kemarin. Dan kamu sedang tidak beruntung karena aku tidak berniat cerita. Memang aku tak pernah bercerita muasal masalah. Untuk apa? Sebagai bahan kau bisa ceramah? Silahkan saja, tapi tidak di depanku; seseorang yang selalu kau panggil keras kepala.
Aku menginap disini kawan, di tempat yang dulu pernah kita mimpikan. Jauh dari kota dengan udara segar yang membersihkan dada. Jika pagi, kadang kala masih ada embun walau waktu sudah menunjukan tinggi hari. Indah kawan, mungkin kau bisa main-main kesini, dunia yang dulu sempat kita mimpikan karena bosan menghirup asap ibu kota. Tak ada bising di telinga, hanya ada babi di halaman rumah, lengkap dengan temannya yang melata.
Sekarang kau dimana? Masih di negeri tirai bambu? Apa yang kau kerjakan disana? Pulanglah, rumput kita lebih hijau dari rumput tetangga. Setidaknya begitu kata pak ketua, tak begitu jelas dia ketua apa. Mungkin ketuaan. Itu terlihat dari rambutnya yang dua warna, juga giginya yang tinggal dua mirip burung gereja. Eh, burung kakak tua. Masa iya burung kakak tua punya gigi? Begitukah lirik lagunya? Entah...
Aku sampai lupa kalau ini surat untukmu. Sahabat jauh, jauh sekali. Aku tak tau berapa kali naik pesawat untuk sampai di tempatmu. Dan jika pakai kapal laut, mungkin akan puluhan hari. Kau harus mengajakku sekali-sekali, keliling tembok cina dengan jalan kaki. Ah, aku sekarang mulai tak yakin. Terakhir kita mendaki gunung di tepi kota, kau pingsan sekitika. Empat orang, eh setidaknya lima. Butuh lima orang memapahmu ke bawah, itupun seperti bis kota, berhenti setiap ada yang berteriak "stop". Aku menyesal mengajakmu malam itu. Tapi jika kau tak ada, tentu tak ada kisah yang asyik jika kita mulai bercerita. Sepertinya aku mulai kangen. Boleh sekarang kau muntah, karna beberapa menit yang lalu aku sudah. Empat kali, eh seingatku lima kantong sudah. Hueeekkk...
Kau tau mitos sungai tengah kota kita? "Jika minum airnya, biarpun pergi jauh kemana, sungguh susah mau melupakannya" Seingatku dulu kau sering kami lempar begitu saja ke sungai tua itu. Masih dengan seragam sekolah, lengkap dengan dasi dan topi yang rapi seperti habis upacara bendera. Pasti sudah bergalon-galon kau sengaja meminumnya. Karna seingatku saat itu bulan puasa, saat matahari menyengat di kepala. Seperti bencana membawa berkah, kau naik ke tepian dengan sumringah. Mirip wajah pengantin setelah malam pertama. Wajahmu merona, tapi besoknya kau baru sadar kalau wajahmu penuh jelantah hasil limbah pabrik kerupuk lidah buaya.
Kawan, pulanglah...
Mungkin tak ada karpet merah, tapi rindu ini bisa mengobati dahaga akan bercanda. Mimpi kita yang dulu bisa kita wujudkan lagi, tentu dengan bentuk yang berbeda. Seperti kau ingin menguasai dunia, sekarang sangat bisa. Aku punya dua globe di ruang kerja. Kau bawa pulang saja jika kau suka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar