Sudah hampir jam 5, artinya aku hanya punya waktu kurang
dari 60 menit untuk menyelesaikan surat ini. Tak apa, toh yang penting aku
masih bisa menulis walau terpaksa. Aku masih dengan seragam Pramuka lengkap
dengan hasduk merah putih yang melingkari leherku. Setengah jam yang lalu, aku
sudah mengirimkan perintah “Bubar Jalan!!!” kemudian diiringi penghormatan
terakhir kepadaku dan peserta didikku serentak balik kanan. Andai saja ilmu ini
tak kau turunkan, tentu saat ini aku seperti mengembala puluhan anak ayam masuk
ke kandang. Jika tidak kau yang menggiringku untuk bersumpah di dini hari itu,
tentu aku hanya orang-orangan sawah yang dikenakan baju Pramuka. Lalu Tanda
Jabatan Pembina Penggalang Putra yang sekarang bangga menempel di saku kananku
hanyalah sebuah tanda kosong tanpa isi. Sekarang, aku sangat semangat mengubah
negeri, seperti katamu tempo hari. “Kau tidak akan kaya harta di Pramuka, kau
hanya akan memiliki kebahagian dan rasa bangga yang tak terhingga.” Aku mengangguk
takjub sembari bergumam dalam hati; Luar biasa.
Kita bertemu dulu, seingatku tahun 2013 akhir. Panggung di
sebuah aula itu adalah tempatnya. Kau berdiri sambil memberi permainan sedikit
gila. “Cari temanmu, tapi jangan gunakan suara. Gunakan apa saja yang ada, asal
jangan berbicara. Aku hampir saja pingsan di antara kerumunan ratusan calon
Pembina yang siap berlari dengan waktu demi mencari teman yang sudah
ditentukan. Kau tertawa geli. “SIALAN”, umpatku dalam hati. Tapi kau tetap saja
menertawakan diri ini. Anehnya aku tak seperti aku yang biasanya. Permainan itu
membangkitkan semangat diriku untuk terus maju tanpa henti. Hingga akhirnya,
aku adalah orang aneh pertama yang tak punya teman. Selamat! Kau berhasil
membuatku terkenal hari ini.
Tapi, aku harusnya mengucapkan terima kasih. Kalau bukan
karena hal konyol di atas, sekarang aku pasti kesepian. Nyatanya sekarang aku
punya banyak kenalan, walau mereka melabeli diriku sebagai “Orang Aneh”.
Terserah, itu pendapat mereka, dan aku tak pernah menolak penilaian itu.
Selepas beberapa hari luar biasa di asrama pembekalan Kursus
Mahri Dasar Pembina Pramuka, aku mengabdikan diriku untuk memikul tanggung
jawab mengubah karakter generasi muda. Kau tak banyak membantu, hanya sebuah
buku berisi permainan dan lagu. Dan tak sadar kita dipertemukan lagi bulan
lalu, di sebuah pantai dan masih dalam kondisi yang sama; Kau penyiksa dan aku
penderita. Tapi kali ini lebih menyiksa, dan tentu saja lebih bahagia.
Menikmati sedikit derita adalah hal yang harus ditanamkan oleh orang seperti
kita. Biarlah, nyatanya aku rindu dengan hari-hari itu.
Hingga akhirnya, sebuah berita datang seperti halilintar
menghantam cemara. Kau pergi untuk selamanya, tanpa di duga, dan tentu saja tak
dapat dipercaya. Penyakit itu seperti bualan saja, dan tentu saja kami sulit
menerimanya. Seorang teman, sahabat, penyemangat, dan pelatih terbaik kamu
pergi menghadap-Nya. Kami berkabung...
Selamat jalan Kakak. Semoga tenang di alam sana. Kau pasti
sedang bahagia karena ilmu yang kau turunkan mulai di aplikasikan untuk
mengubah negara melalui generasi muda. Kami semua merindukanmu.
Satyamu Kau Dharmakan, Dharmamu Kau Baktikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar