Kepada Sesiapa?
Kepada kamu disana.
Kamu yang sedang membaca.
Jangan lirik kiri kanan, karena ini untukmu sahaja.
Saat ini pukul lima lewat tiga, dan aku belum punya nama untuk kutuliskan di belakang kata "kepada".
Aku tak mau ada jeda, apalagi alpa.
Baiknya jangan berharap ini sebuah surat cinta.
Ini hanya tulisan sederhana.
Sesederhana satu tambah satu sama dengan dua.
Kepada kamu.
Sedang bercumbu atau merindu.
Atau jika kamu sedang tersipu dan malu-malu.
Surat ini untukmu, special dari aku yang menanti hari rabu.
Karna hari ini aku melilu dirundung rindu bertalu-talu.
Hei, aku memanggilmu lagi.
Jika kau mau pergi, silahkan berlari.
Karna percuma kau baca surat ini.
Sungguh suatu kemalangan yang tiada arti.
Membaca ini sama juga makan durian tak ada isi.
Yang didapat hanya tajamnya duri dan kerasnya biji.
Memang aku tak tahu diri.
Sudahlah.
Aku sudah bingung kehabisan kata.
Daripada nanti kau jadi marah, baiknya kuakhiri saja.
Dadaahhh...
*kecup basah*
Kamu yang sedang membaca.
Jangan lirik kiri kanan, karena ini untukmu sahaja.
Saat ini pukul lima lewat tiga, dan aku belum punya nama untuk kutuliskan di belakang kata "kepada".
Aku tak mau ada jeda, apalagi alpa.
Baiknya jangan berharap ini sebuah surat cinta.
Ini hanya tulisan sederhana.
Sesederhana satu tambah satu sama dengan dua.
Kepada kamu.
Sedang bercumbu atau merindu.
Atau jika kamu sedang tersipu dan malu-malu.
Surat ini untukmu, special dari aku yang menanti hari rabu.
Karna hari ini aku melilu dirundung rindu bertalu-talu.
Hei, aku memanggilmu lagi.
Jika kau mau pergi, silahkan berlari.
Karna percuma kau baca surat ini.
Sungguh suatu kemalangan yang tiada arti.
Membaca ini sama juga makan durian tak ada isi.
Yang didapat hanya tajamnya duri dan kerasnya biji.
Memang aku tak tahu diri.
Sudahlah.
Aku sudah bingung kehabisan kata.
Daripada nanti kau jadi marah, baiknya kuakhiri saja.
Dadaahhh...
*kecup basah*
Komentar
Posting Komentar