Untuk Teman Berbaju Dinas Rapi
03.45 a.m.
Waktu saat ini hampir jam 4 pagi. Aku sudah sangat terbiasa
tidur hanya beberapa jam saat malam. Malam ini aku tidur tepat tengah malam.
Mungkin aku sengaja demikian biar aku tak mengemudikan belalang tempurku
seperti kesetanan lagi. Biasanya aku baru mulai bisa memejamkan mata saat ayam
memulai kokokan pertamanya. Entahlah itu pukul berapa. Yang jelas, ketika Azan
selesai berkumandang dan sesi curhat dua Rakaat selesai di kerjakan, hari itu
resmi dimulai. Aku harus memacu kendaraan 120 menit lamanya agar atasanku tak
marah. Jika tertimpa hujan di tengah jalan, maka hari itu aku mendapatkan bonus
yang besar; bisa off-road di lumpur yang dalam. Dan sejak hari pertama aku mengabdi, aku ambil satu pelajaran besar. Tak perlu repot menyetrika
baju lagi. Karena bagaimanapun rapinya baju dinasku, ketika sampai ke tempat
kerja aku seperti keluar dari sawah.
Aku baru saja menceritakan rutinitas harianku sebelum
bertemu dengan sang surya. Salah satu yang membuat aku tak pernah bosan jika
harus melakukan hal yang sama terus setiap pagi. Dia selalu indah muncul ketika
aku mulai sedikit istirahat dari perjalanan panjangku. Dibalik deretan bukit
itu, fajar mengintip mesra mengeluarkan jingga dan embun sirna seketika. Itu
sebuah tanda bahwa jalan sebentar lagi akan penuh akan lalu lalang manusia.
Mulai terlihat satu dua anak sekolah menanti bis antar kota. Biasanya mereka
sekolah jauh dari rumah. Bukan karena mengejar kualitas pendidikan yang lebih
baik, tapi karena tak ada sekolah terdekat yang harus dikejar. Ini kampung
kawan, yang sekolah disini adalah anak-anak luar biasa dengan kemauan ekstra.
Jika ada seorang sarjana disini, maka dia dianggap dewa.
Panjang sekali basa-basinya. Hehehe...
Surat ini untukmu kawan, teman seperjuangan. Sekarang
mungkin kau sedang duduk manis di meja kerjamu. Memandang layar datar yang
kadang berkedip dengan berbagai macam aplikasi yang terlihat sulit. Aku dengar
keluhanmu tentang deadline yang disodorkan seorang Eselon atasan kerjamu.
Untung saja kau tak seperti kebanyakan orang lainnya, berkeluh di sosial media.
Aku masih ingat Jum’at malam itu ketika kau mengundangku untuk bertukar kisah
dengan beberapa cangkir kopi yang tergeletak pasrah di atas meja. Aku tahu kau
sedang gundah, atau jengah dengan kesibukanmu. Dan kapanpun kau butuhkan aku,
selama itu bisa membuatmu lega, aku akan berusaha untuk selalu ada.
11.32 a.m.
Aku sudah sampai di tempatku bekerja. Sebuah sekolah kecil
yang tak banyak siswanya. Ini sudah waktunya aku memacu motorku untuk pulang
sebenarnya, tapi aku ingat surat ini belum selesai sempurna. Aku masih harus
menempuh puluhan kilometer lagi untuk tiba di rumah. Begitulah aku setiap
harinya. Lelah? Jangan kau tanya, tentu saja aku menjawab “Iya”. Jawaban yang
sama juga akan aku ucapkan jika kau bertanya apakah aku menikmati semuanya.
Tentunya dengan alasan yang sudah kujelaskan subuh tadi.
Hei kawan, surat ini berbentuk elektronik. Tak perlu aku
membongkar koleksi perangko Ayahku dan berlari ke kantor pos untuk
mengirimkannya. Aku hanya butuh jaringan yang bisa mengirimkan semuanya dengan
beberapa tombol ajaib yang bisa ditekan seenaknya. Sayangnya, disini bahkan tak
ada sinyal telepon seluler. Aku harus mendekat ke arah keramaian untuk bisa
mengirimkan ini semua. Itu pun tak semudah yang kau bayangkan. Karena tempat
yang ramai di dekat sini memang punya sinyal, tapi loading yang dihasilkan bisa sama dengan waktumu mandi 3 kali
ke sungai terdekat yang harus ditempuh dengan 2km jalan kaki. Satu-satunya cara
terbaik agar surat ini sampai tepat waktu adalah pulang ke rumah. Ke pinggir
kota yang tak ada matinya.
Surat ini aku tuliskan untukmu agar kita sama-sama bersyukur
dengan pekerjaan kita sekarang. Tentu ada suka dan dukanya walau hasil yang
didapatkan tak jauh berbeda. Cintai apa saja yang ada disana. Jika kau tak bisa
mencintai pekerjaanmu, maka cintailah meja kerjamu seperti aku yang mencintai
perjalanan pergi dan pulang saat aku memeras keringatku. Aku tak lebih beruntung
darimu yang mendapatkan libur di hari Sabtu. Aku juga tak bisa bangun lebih
siang sepertimu karena aku harus berpacu dengan fajar yang akan muncul di bukit
itu. Dan tentu saja kau masih bisa menghabiskan secangkir kopi di pagi hari sebelum
berangkat kerja. Jika dibanding denganku, air putih saja kadang aku lupa
meneguknya.
Ah sudahlah. Tenaga perangkat tua ini sudah berteriak 5
menit yang lalu. Dan disini sedang mati lampu. Listrik disini padam seperti
orang tua minum obat. Jika penyakitnya sedang kumat, bisa 5-6 kali sehari. Tapi
biarlah, orang-orang disini sudah terbiasa dengan janji pemerintah yang lumayan
banyaknya. Kau yang duduk rapi dengan baju dinas itu mungkin sedikit bisa
membantu mereka jika kau anggap ini sebuah keluhan. Jika tidak, maka
bersyukurlah bahwa kau tidak sedang berada disini.
Nanti kita sambung lagi.
Tulisannya bagus...
BalasHapusKadang atau malah seringkali yg lebih mudah akses pulang pergi tempat kerja seperti saia ini, kurang mensyukuri kemudahan itu.
Tetap semangat Kurniawandy ��