Lovasket
Hei, apa kabar?
Sudah lama aku tak mengucapkan kalimat itu. Bahkan aku lupa
kapan terakhir kali mengatakannya. Semoga kau tetap sehat, dan bahagia
tentunya.
Maap aku melanggar
janjiku untuk tidak menghubungimu lagi. Setidaknya aku tak pernah mengganggu
tidur malammu lagi bukan? Aku masih ingat ketika dulu kau mau tidur dan aku
memaksamu untuk berbagi cerita lewat pesan singkat. Kau ketus menjawab, “Kamu
egois banget ya! Saya mau tidur kok dilarang!” Sebagian besar orang akan
memilih untuk berhenti jika dihardik seperti itu. Tapi bagiku itu kunci memasuki
kehidupanmu. Karena apa? Karena itu balasan SMS mu yang paling panjang; lebih
dari 40 karakter. Karena sebelumnya aku hanya berdebar-debar menunggu di depan layar
ponsel hanya untuk melihat pesan balasan berupa “Tidak”, “Iya”, “Lagi makan”, “Mau
pergi”, atau, “Sedang sibuk”.
Aku tak begitu suka kepo, tapi beberapa hari terakhir aku
membuka beberapa akun sosial media punyamu. Tak banyak yang bisa aku lihat
disana. Aku tak tahu kesibukanmu sekarang. Yang aku perhatikan hanya senyum
itu. Senyum yang bisa membuatku tidak makan seharian. Lengkung parabola itu bisa
membuatku melamun sepanjang malam. Aku bahkan dikira gila oleh teman-temanku.
Dan belum pernah aku berjuang untuk memenangkan hati seseorang selain kepadamu.
Entahlah, aku tak pernah tau alasannya. Jika kau tahu, tolong beritahu aku.
Ku lihat di akun instagram
mu sekarang kau sudah mulai coba menggunakan gaun. Tak kusangka kau begitu
cantik menggunakannya. Kau juga mulai berdandan? Apa aku salah lihat? Hehehe...
Dalam benakku kau hanyalah cewek tomboy dengan jeans belel dan T-shirt berwarna
gelap. Atau paling tidak kau dengan jersey basketmu memantul-mantulkan bola
kemudian menembaknya ke arah ring. Atau kau dengan setelan futsal menggiring
bola melewati beberapa pemain. Ahh, bayangan itu kadang masih suka datang.
Apakah kau masih main basket? Mungkin kapan-kapan kita atur
jadwal duel kita. Sudah lama aku tak menyentuh bola berwarna jingga itu lagi.
Perutku sekarang mulai buncit, aku juga tak segesit dulu. Tapi jika kau mau,
kita bisa bertanding untuk tembakan 3 angka. Selama ini aku sudah banyak
berlatih untuk itu. Setidaknya ketika aku hendak memasukkan baju ke dalam
keranjang pakaian kotor, aku selalu mundur beberapa meter dan melemparkannya
masuk dengan mulus. Seharusnya sekarang kau mulai gemetar dengan keahlianku
yang satu itu, atau mungkin kau sedang tersenyum geli mendengarnya. Hehehe..
Kau tahu kenapa aku suka basket? Salah satu alasannya karena
aku ingin melampaui cara bermainmu yang luar biasa. Mungkin aku terlambat
menyadarinya, tapi aku kehilangan minat bermainku setelah tak berhubungan lagi
denganmu. Kau seperti candu yang membuatku bisa berlari jauh menyerang dan
bertahan tanpa kelelahan. Kau seperti memaksaku bercumbu dengan bola dan tak
pernah mau melepaskannya bahkan saat aku tidur. Dan sekarang, saat senyummu tak
ada, aku kehilangan semangatku untuk bermain lagi. Sebuah keniscayaan yang
sangat aku sesalkan.
Hei, sekarang aku berteman baik dengan seseorang yang
menyukai basket. Dan dia pernah satu tim denganmu dulu. Aku tak sengaja melihat
foto tim kalian dulu di salah satu akun miliknya. Hanya saja aku tak pernah
memberi tahu tentangmu padanya. Dan kelihatannya kalian juga tidak terlalu akrab.
Setidaknya sekarang dia bisa mengembalikan rasa rinduku pada lapangan segi
empat itu.
Terima kasih pernah jadi bagian termanis dalam hidupku.
Walau akhirnya kita tak bisa bersama, derap langkah kita pernah seirama dalam
pantulan bola menuju sasarannya.
Titip rindu buat si bulat jingga.
Komentar
Posting Komentar