Hei apa kabar?
Mungkin aku kira surat ini bakal jadi sequel keren, ngalahin cinta fitri atau tersanjung yang seasonnya aku lupa sampai berapa. Dan sepertinya hanya kau yang layak menerima dengan tema surat seperti ini. Kau orang terapuh yang kukenal, bahkan terakhir kali kulihat kau sudah keropos, karatan dan dimakan rayap. Hehehe.. maap. Gak nyinggung cuma sengaja.
Berapa hari kita gak ketemu? Lama ya? Saking lamanya sekarang kau sudah tak jomblo lagi. Pasti perempuan itu katarak, atau kau mengungkapkan perasaanmu pas mati lampu. Dia gak lihat bahwa yang nembak dia ternyata sapi, mau mutusin udah terlanjur sayang. Tapi cintanya keren sekali kan? Cinta yang benar-benar buta. Gak bisa bedakan mana manusia mana sapi. Eh kamu sapi? Kok saya nulis surat ke sapi? Berarti saya juga bodoh. Ah, bodoh amat. Hehehe...
Lalu bagaimana pekerjaanmu? Masih di salah satu perusahaan perusak hutan itu? Kalo dapat kerjaan lain, kamu resign ya. Aku gak suka kau disitu. Aku memang gak terlalu tahu apa yang mereka perbuat, tapi dari kacamata seorang awam sepertiku, mereka tidak bagus. Jangan-jangan kau bagian dari sekte mereka? Oh tidak. Sementara bekerjalah dulu yang proffesional ya. Cintai pekerjaanmu hanya sekedar untuk mencari nafkah, buat bisa minum kopi dan merokok setiap hari. Hei kau masih merokok? Berhenti saja, tidak bagus bagi kesehatan. Aku sudah lama berhenti merokok, setidaknya sejak... 30 menit yang lalu kalo gak salah. Eh kau ada rokok? Boleh minta sebatang? Aku gak punya uang mau beli. Hehehe...
Haruskah aku bilang aku kangen? Ah, gak usah. Ngapain juga? Aku gak kangen, aku cuma rindu. Kamu rindu gak? (kok ngetik ini agak-agak mual ya?) Rindu seruput kopi berdua. Berbagi cerita tentang apa saja. Bahkan cerita yang paling aku tutup rapat dengan semua orang. Mungkin juga aku percaya padamu. Atau mungkin kau salah satu orang yang bisa paham dengan semuanya. Kenal denganmu baru setahun lebih, tapi rasanya kita terlahir bersama. Mencoba menentang hidup sama-sama, menggapai mimpi sama-sama, bermain di atas pelangi sama-sama, bernyanyi sama-sama, dan melakukan hal gila bersama (Beberapa kalimat terakhir sengaja dibuat agak lebay, supaya ada sedikit efek dramatis dalam surat ini. Penulis hampir muntah saat menulisnya). Lalu setelah semua kenangan itu kita lalui, tidakkah ada sedikit rindu di hati? (Huuueekkkk, muntah beneran)
Hei, surat ku yang pertama dulu bercerita tentang kegalauanmu pada si “biru” masih ingat? Hahaha... tenang saja, dia dengan orang terbaik sekarang. Lagipula aku sama sekali tak berniat membahas masa itu lagi, Beberapa bulan berikutnya adalah fase yang sengaja ingin aku hilangkan dalam hidupku, dan kau tahu pasti alasannya. Sekarang kau sudah menjalani kisah cinta yang luar biasa bukan? Siapa namanya? Aku cuma bercanda, aku sudah tahu namanya. Dia cantik dan dia kurang waras (alasan dia kurang waras; baca lagi alinea pertama surat ini). Semoga baik-baik saja dengannya. Do’a terbaik untukmu. Hanya saja, tak ada manusia yang sempurna. Kau harus jadikan dia orang yang menyempurnakan harimu. Jangan terlalu berharap banyak dengannya, minta saja dia untuk bahagia setiap hari. Karna dengan mengetahui dia bahagia, aku rasa kau juga bahagia kan? Iya, bahkan formula cinta hanya sesederhana itu.
Aku agak kaget ketika kau menyapaku lewat messangger tadi siang. Mungkin karena sudah lama tak bertukar kabar, aku agak sedikit bahagia hari ini. Aku garis bawahi “sedikit” supaya kau tidak besar kepala, hehehe... Hidupku sekarang luar biasa, kau melengkapinya hari ini. Aku dikelilingi orang-orang hebat yang memandang hidup dari sudut pandang mereka sendiri. Orang-orang luar biasa yang selalu bisa membuat aku tertawa dengan cara mereka. Dan mereka semua mengingatkanku padamu. Sekali lagi, mungkin aku hanya rindu padamu (kali ini beneran, sumpah!).
Hei kapan kita bisa ngopi bersama? Jangan berdua. Terakhir kali kita ngopi berdua, aku memperhatikan orang-orang memandangi kita. Aku rasa dalam pikiran mereka mungkin “Ini orang aneh sekali, ngopi kok sekalian mengembala ternak”, hehehe... Jangan marah. Eh, apa kau bisa marah sekarang? Aku tak pernah melihatmu marah. Dan semoga aku takkan pernah melihatnya. Karna aku takut jika kau marah kau bakal menyeruduk orang-orang disekeliling (silahkan ketawa, kalau kau tidak ketawa, biar aku saja, hehehe...).
Sudahlah, aku bahkan malas sebenarnya nulis ini, tapi keinginanku untuk menulis mengalahkan rasa malasku. Sekali lagi, mungkin aku hanya rindu.
Dari temanmu.
PS: Temanku pernah bilang kepadaku, Find comedy every tragedy. Aku rasa itu juga berlaku padamu. Karena Tuhan Maha Bercanda, tertawalah selagi bisa. Aku rindu padamu. (muntah lagi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar