Banner Buda Blogger

Komunitas Blogger Pontianak

Rabu, Februari 10, 2016

Letter For Saritem

Dear Saritem,

Tak pernah habis kata jika bercerita tentangmu. Terima kasih telah menjadi mood booster ku setiap hari. Ada yang hilang rasanya jika tanpa kau memenuhi ruang kerja kita. Tingkahmu adalah kumpulan canda yang siap meledak kapan saja. Bicaramu adalah komedi yang bergema tanpa sketsa maupun rencana. Bahkan amarahmu adalah emosi yang bisa dibungkus menjadi kelakar tawa. Betapa beruntungnya aku karena kita bisa berjumpa dan bersua hampir tiap hari dalam setiap minggunya. Salah satu hal yang aku syukuri dalam hidup ini, bahagia tanpa alasan sama sekali. Eh, kurasa aku mulai hiperbola. Dan aku tak berniat membuatmu besar kepala. Jadi, abaikan saja beberapa kalimat di atas.


Aku menulis ini berhari-hari, dengan berbagai macam emosi dan suasana hati yang kadang sepi kadang riuh bunyi. Kadang juga aku mencoba bermimpi, memposisikan diri menjadi beberapa sosok yang bisa membuatmu tertawa geli; Ayah, Murid, Adik, Abang, Teman, dan Seorang yang bisa kau miliki suatu hari nanti. Seperti apa kau memandangku saat ini, sungguh aku tak peduli. Aku bahkan siap menjadi penantang bertarung abadi jika kau kehendaki. Tapi ada satu hal yang selalu kuingat darimu. “Berapa banyak pun nama yang kau miliki, Aku akan tetap memanggilmu Andy!”. Begitulah kamu. Aku tak pernah tau bagaimana kau mendeskripsikan “Andy”. Sebagai pembantu atau majikan? Atau sebagai teman. Teman yang tak pernah diharapkan, dan akhirnya sekarang dirindukan. Begitukah?

Kita berdua adalah elegi, Aku menyadari satu hal setelah beberapa hari kita tak saling melengkapi; Rindu itu pasti. Drama dan Roman berlaga setiap hari, dan aku harap ini akan terus terjadi sampai nanti, bahkan inginku sampai mati. Tapi aku pasti merelakanmu pada orang yang akan kau panggil suami, jika kau temukan dia esok hari. Walau aku tahu kau sudah mencoret namaku sejak dulu dari daftar itu. Lalu apa peduliku? Aku bahkan tak ingin menjadi seseorang yang begitu berarti untukmu. Cukup saja sebagai pengembiramu. Jikapun kita paksakan tetap terjadi, kita bahkan sudah tau akhirnya. Akan ada lautan airmata lengkap dengan badai di dalamnya. Dan bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menangisiku apapun yang terjadi? Aku masih menggenggamnya, demi bahagia kita.

Kita memang berbeda. Mungkin tak seperti langit dan bumi, lebih tepatnya seperti fajar dan matahari. Terserah kau pilih yang mana, aku akan pilih yang lainnya. Kita sama-sama bercahaya, walau tak pernah muncul bersama. Yang satu menimbulkan harapan, yang lainnya memberi kehangatan. Kita selalu bertukar peran jika keadaan sedikit dipaksakan. Ada saat dimana kita bingung jika turun hujan. Jika hanya berlaku untukmu, maka aku bisa membantu memulihkan indahmu. Begitu juga jika aku yang menerima itu. Tapi, bagaimana jika terjadi badai sepanjang hari? Akankah kita menunggu esok hari untuk memulai semua dari awal lagi? Atau kita akan memaksakan muncul menyinari bumi dengan bantuan kilat dan petir yang berdentum tak beraturan? Entahlah.

Ini sudah jam 3 Pagi, aku ketiduran saat menulis paragraf di atas. Aneh saja, kemarin baru jam sepuluh, tapi tubuhku berasa oyong tak tentu rudu. Mungkin lelah karena memikirkanmu. Eh, aku bilang apa barusan? Memikirkanmu? Mungkin iya, mungkin juga tidak, karena aku pelupa parah. Yang aku ingat ada beberapa pesan di ponsel sebelum aku menutup mata tadi malam.

“Selamat malam
Tidurnya jangan kemalaman
Besok berangkat kan?
Besok jangan telat bangun
Jangan ngebut juga
Jangan ngantuk juga kalo bawa motor
Pokoknya besok hati-hati
Yaaaa....

Selamat tidur
Jangan tidur kemalaman
Eh, tadi saya udah bilang ya?
Pokoknya istirahat yang cukup
Daahhh...
Tidur yang nyenyak”

Mungkin itu sugesti yang membawa ke alam imajinasi. Malam ini aku tidur nyenyak. 3 alarm terlewat begitu saja, tidak biasanya. Ah, aku rasa kau pantas mendapatkan terima kasih. Bagiku tidur bukanlah soal kuantitas, tapi kualitas. Tak masalah jika hanya 30 menit tapi melepas lelah. Daripada berjam-jam tapi badan sakit semua.

Belakangan aku mulai percaya, ada baiknya kita terus bersama. Saling menularkan virus positif dan bercerita tentang kebaikan untuk saling menyemangati satu dengan yang lainnya. Aku sudah tak merokok lagi. Untukmu, karena kau bisa mengendus bau nikotin dari jarak yang cukup jauh, dan itu mengganggu. Walau tak bisa aku pungkiri, aku masih menghisapnya barang sebatang sehari, tapi tidak setiap hari. Itu pencapaian yang luar biasa bukan? Aku memulainya sejak aku genap 15 tahun, di pesta ulang tahun kecil-kecilan ala anak geng 2000-an. 10 tahun lebih, dan kau memutus rantai kebiasaan buruk itu dengan satu tatapan saja; “Kalau mau merokok, jangan di dekat saya!”. Dan anehnya, bahkan sampai sekarang aku masih geleng kepala, mengapa aku memilih berhenti ketimbang menjauhimu.

Sudah ya. Aku mau siap-siap. Nanti aku pasti sambung lagi. Aku mau kau tahu satu hal:
“Aku menyayangimu.”
Terserah kau mengartikan sayang itu seperti apa, sungguh aku tak peduli.


Aku tunggu kau di meja kerjamu Jum’at nanti.

Dari temanmu, Andy.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar