Dear Saritem,
Tak pernah habis kata jika bercerita tentangmu. Terima kasih
telah menjadi mood booster ku setiap
hari. Ada yang hilang rasanya jika tanpa kau memenuhi ruang kerja kita.
Tingkahmu adalah kumpulan canda yang siap meledak kapan saja. Bicaramu adalah
komedi yang bergema tanpa sketsa maupun rencana. Bahkan amarahmu adalah emosi
yang bisa dibungkus menjadi kelakar tawa. Betapa beruntungnya aku karena kita
bisa berjumpa dan bersua hampir tiap hari dalam setiap minggunya. Salah satu
hal yang aku syukuri dalam hidup ini, bahagia tanpa alasan sama sekali. Eh,
kurasa aku mulai hiperbola. Dan aku tak berniat membuatmu besar kepala. Jadi,
abaikan saja beberapa kalimat di atas.
Aku menulis ini berhari-hari, dengan berbagai macam emosi
dan suasana hati yang kadang sepi kadang riuh bunyi. Kadang juga aku mencoba
bermimpi, memposisikan diri menjadi beberapa sosok yang bisa membuatmu tertawa
geli; Ayah, Murid, Adik, Abang, Teman, dan Seorang yang bisa kau miliki suatu
hari nanti. Seperti apa kau memandangku saat ini, sungguh aku tak peduli. Aku
bahkan siap menjadi penantang bertarung abadi jika kau kehendaki. Tapi ada satu
hal yang selalu kuingat darimu. “Berapa
banyak pun nama yang kau miliki, Aku akan tetap memanggilmu Andy!”.
Begitulah kamu. Aku tak pernah tau bagaimana kau mendeskripsikan “Andy”. Sebagai
pembantu atau majikan? Atau sebagai teman. Teman yang tak pernah diharapkan,
dan akhirnya sekarang dirindukan. Begitukah?
Kita berdua adalah elegi, Aku menyadari satu hal setelah
beberapa hari kita tak saling melengkapi; Rindu itu pasti. Drama dan Roman
berlaga setiap hari, dan aku harap ini akan terus terjadi sampai nanti, bahkan
inginku sampai mati. Tapi aku pasti merelakanmu pada orang yang akan kau
panggil suami, jika kau temukan dia esok hari. Walau aku tahu kau sudah
mencoret namaku sejak dulu dari daftar itu. Lalu apa peduliku? Aku bahkan tak
ingin menjadi seseorang yang begitu berarti untukmu. Cukup saja sebagai
pengembiramu. Jikapun kita paksakan tetap terjadi, kita bahkan sudah tau
akhirnya. Akan ada lautan airmata lengkap dengan badai di dalamnya. Dan
bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menangisiku apapun yang terjadi? Aku
masih menggenggamnya, demi bahagia kita.
Kita memang berbeda. Mungkin tak seperti langit dan bumi,
lebih tepatnya seperti fajar dan matahari. Terserah kau pilih yang mana, aku
akan pilih yang lainnya. Kita sama-sama bercahaya, walau tak pernah muncul
bersama. Yang satu menimbulkan harapan, yang lainnya memberi kehangatan. Kita
selalu bertukar peran jika keadaan sedikit dipaksakan. Ada saat dimana kita
bingung jika turun hujan. Jika hanya berlaku untukmu, maka aku bisa membantu
memulihkan indahmu. Begitu juga jika aku yang menerima itu. Tapi, bagaimana
jika terjadi badai sepanjang hari? Akankah kita menunggu esok hari untuk
memulai semua dari awal lagi? Atau kita akan memaksakan muncul menyinari bumi
dengan bantuan kilat dan petir yang berdentum tak beraturan? Entahlah.
Ini sudah jam 3 Pagi, aku ketiduran saat menulis paragraf di
atas. Aneh saja, kemarin baru jam sepuluh, tapi tubuhku berasa oyong tak tentu
rudu. Mungkin lelah karena memikirkanmu. Eh, aku bilang apa barusan?
Memikirkanmu? Mungkin iya, mungkin juga tidak, karena aku pelupa parah. Yang
aku ingat ada beberapa pesan di ponsel sebelum aku menutup mata tadi malam.
“Selamat malam
Tidurnya jangan
kemalaman
Besok berangkat kan?
Besok jangan telat
bangun
Jangan ngebut juga
Jangan ngantuk juga
kalo bawa motor
Pokoknya besok
hati-hati
Yaaaa....
Selamat tidur
Jangan tidur kemalaman
Eh, tadi saya udah
bilang ya?
Pokoknya istirahat
yang cukup
Daahhh...
Tidur yang nyenyak”
Mungkin itu sugesti yang membawa ke alam imajinasi. Malam
ini aku tidur nyenyak. 3 alarm terlewat begitu saja, tidak biasanya. Ah, aku
rasa kau pantas mendapatkan terima kasih. Bagiku tidur bukanlah soal kuantitas,
tapi kualitas. Tak masalah jika hanya 30 menit tapi melepas lelah. Daripada
berjam-jam tapi badan sakit semua.
Belakangan aku mulai percaya, ada baiknya kita terus bersama.
Saling menularkan virus positif dan bercerita tentang kebaikan untuk saling
menyemangati satu dengan yang lainnya. Aku sudah tak merokok lagi. Untukmu,
karena kau bisa mengendus bau nikotin dari jarak yang cukup jauh, dan itu
mengganggu. Walau tak bisa aku pungkiri, aku masih menghisapnya barang sebatang
sehari, tapi tidak setiap hari. Itu pencapaian yang luar biasa bukan? Aku
memulainya sejak aku genap 15 tahun, di pesta ulang tahun kecil-kecilan ala
anak geng 2000-an. 10 tahun lebih, dan kau memutus rantai kebiasaan buruk itu
dengan satu tatapan saja; “Kalau mau
merokok, jangan di dekat saya!”. Dan anehnya, bahkan sampai sekarang aku
masih geleng kepala, mengapa aku memilih berhenti ketimbang menjauhimu.
Sudah ya. Aku mau siap-siap. Nanti aku pasti sambung lagi. Aku mau kau tahu satu hal:
“Aku menyayangimu.”
Terserah kau mengartikan sayang itu seperti apa, sungguh aku
tak peduli.
Aku tunggu kau di meja kerjamu Jum’at nanti.
Dari temanmu, Andy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar