Mighty Muthmainnah

Assalamualaikum…

Apa kabarmu Nak? Baik-baik saja kah? Kau pasti terkejut mendapat surat dariku. Pasti sekarang kau duduk di kelas 6. Bagaimana suasana kelas neraka itu? Luar biasa kan? Kau pasti sedang menghadapi lembutnya Guru Matematikamu dan Galaknya Guru Bahasa Indonesiamu. Perlu kau pahami, mereka bukan pribadi yang sama. Jadi wajar mereka menggunakan cara mengajar yang berbeda. Tapi tujuannya tetaplah sama; membuat nilaimu dan temanmu sempurna pada Ujian Nasional kelak. Dan tentu saja itu akan berdampak langsung pada harumnya nama sekolah kita di tingkat Kecamatan. Kita semua tahu, sekolah itu butuh prestasi akademik, kita tidak bisa terus menerus bergantung pada prestasi olahraga yang makin tahun susah mencari atlit muda. Eh, jangan kau fikirkan itu, itu bukan urusanmu. Yang harus kau lakukan sekarang hanyalan belajar. Agar tak ada yang bilang kalo sekolah kita adalah sekolah kebun yang hanya menelurkan petani.

Aku sekarang masih mengajar, Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Disiplin ilmu yang dulu aku geluti di bangku kuliah. Aku tidak lagi mengajar Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya. Walau tak bisa aku tepis, bahwa aku menyukai pelajaran itu. Dan tentu saja kau selalu jadi nomor satu. Kau tidak pintar Sains dan Matematika, apalagi Ekonomi dan Sejarah. Kita menaruh minat yang sama, sebagai pemimpi tentunya. Aku masih ingat surat terakhirmu saat aku pamit di depan kalian semua waktu itu.

“Pak Guru,
Kau pernah bilang aku adalah mutiara dalam lumpur.
Seberapapun dalam dan kotor lingkungan di sekelilingku, sinarku akan menerangi.
Jika kini aku masih berkutat dalam kubangan itu? Siapa kini yang akan mencuci dan mengangkatku untuk dijadikan perhiasan kemudian bisa berharga?
Aku mohon jangan pergi...”

Muthi, jika boleh memilih, aku akan tetap disitu. Mengajar dan mengabdi dengan kontrak sampai mati. Tapi masa depan memilihkan tempat bagiku. Lewat sebuah surat dengan tanda tangan Pak Bupati, aku di lempar jauh untuk merantau demi mutiara sepertimu yang harus aku gali. Walau kenyataannya, dirimu adalah produk Tuhan yang langka. Entah mengapa aku bisa terkesima ketika kau membacakan sebuah puisi di beranda sekolah dengan air mata. Kau juga pernah membuatku berhenti makan, ketika kau dengan indahnya menyanyikan lagu Twinkle-twinkle little star. Maafkan aku.

Aku sudah bahagia disini, mengajar kurang dari tiga puluh murid yang luar biasa. Mereka mungkin tak sebanding dengan kau yang sudah kusetarakan dengan Mozart. Tapi tentu dari mereka juga, aku akan menemukan cinta yang harus aku bagikan setiap hari. Demi tuntasnya janji kemerdekaan yang sering di serukan Bapak Menteri; Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Muthi, 

Teruslah belajar. Aku tunggu kau di panggung besar dunia. Suatu saat nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik