Kindness is the
language which the deaf can hear and the blind can see.
(Mark Twain)
Sebelum kalian membaca tulisan ini pastikan kalian tahu
bahwa aku menyayangi kalian semua. Tanpa terkecuali. *peluk*
Semoga kalian dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Hati dibersihkan, tangan di ringankan, dan dimudahkan segala
urusan.
Semua itu penting sebab kalian garis depan perubahan.
Aamiin..
Maap aku jarang berkunjung, dan mungkin sebagian kalian
bertanya siapa aku. Tidak usahlah terlalu ribut mencari tahu, karna aku hanya
masa lalu. Sebagian masa lalu memang harus dilupakan untuk menyongsong masa
depan yang lebih indah. Sebagian lagi bisa dikenang untuk dijadikan pelajaran
yang lebih berharga.
Eh, Selamat Ulang Tahun yang ke-3. Potong kue nya... potong
kue nya... hehehe...
Mmmmm... Jika boleh aku mau bercerita.
Jika ada kursi di dekat kalian, silahkan duduk dulu. Anggap
saja aku duduk di kursi yang di depannya. Sambil tersenyum, menarik napas, dan
mengaduk-aduk cangkir kopiku. Tentu tak ada sianida, hanya ada cinta. Dan
sekarang aku menatap kalian, kemudian menarik napas dan....
*seruput kopi*
Begini ceritanya:
Pertengahan 2012, Aku lupa bulan dan tanggalnya. Libur Ramadhan
memaksa aku dan teman-temanku mengadakan reuni kecil-kecilan. Sederhana, bahkan
saking sederhananya hanya ada teh es, kurma, dan takjil seadanya. Saling cerita
dan melempar canda adalah kegiatan inti dari pertemuan itu. Sampai akhirnya,
ketika waktu sudah malam dan kami mulai hendak berpamitan, salah seorang teman
yang sampai sekarang aku lupa punya sebuah ide gila; “Bakti sosial”. Sebuah
kata magis yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan anehnya semua mengangguk
setuju untuk melaksanakannya.
Mulailah kami menyebarkan berita gila itu ke beberapa
kenalan dekat. Respon yang diterima cukup beragam. Ada yang tertawa, menghina,
tak percaya dan meragukan kebenarannya. Tapi, tak sedikit pula dari mereka yang
akhirnya merelakan rezeki mereka. Setelah dua minggu keliling mencari dana, aku
dan beberapa teman melakukan sahur dan buka puasa bersama di Panti Asuhan. Itu
adalah hari pertama aku merasa menjadi manusia yang berguna. Wajah-wajah masa
depan yang butuh uluran tangan dan senyum yang terkembang dari anak-anak penghuni
panti itu adalah alasannya.
Hei, kalian masih disitu? Ini bahkan belum masuk cerita
sesungguhnya. *senyum pasta gigi*
Berbulan-bulan berlalu sejak Tuhan menyentuh hatiku lewat
anak manis dan lucu di panti itu, aku dikejutkan oleh sebuah postingan salah
satu teman yang ikut meramaikan kegiatan kemarin. Sebuah thread di website
buatan anak negeri mengundang aku untuk menelusuri lebih jauh apa maksud sebuah
judul yang aneh dan tak biasa itu. Lalu, mulailah aku berkenalan dengan
Berbaginasi. Kegiatan rutin yang sangat mudah tapi mengapa tak setiap orang
berpikir untuk melakukannya. Setelah menimbang beberapa hal, aku mantapkan hati
memulainya.
Waktu itu akhir Januari 2013, malam Jum’at, jam sepuluh
lewat, dan rintik hujan yang mengundang lebat. Aku dan beberapa teman sepakat
bertemu di parkiran sebuah ruko di Jalan Pahlawan (Kalo tidak salah, sekarang
di depan Star Cafe) ber-4. Kurang lebih 30 Nasi bungkus sudah siap dibagikan.
Berbekal sedikit pengetahuan teman yang pernah melakukan kegiatan serupa saat
nasi bungkus hasil kegiatan lebih dan tak tahu mau dibawa kemana, kami mulai
menandai posisi-posisi target. Tidak kurang setengah jam berkeliling nasi
bungkus kami sudah habis. Itu malam menggembirakan, tapi tak banyak yang bisa
aku ingat dimalam itu selain kesedihan untuk negeri ini. Sedih, tapi punya
semangat untuk memperbaiki.
Minggu depannya aku juga mengajak teman-teman melakukan
kegiatan serupa. Hasilnya tak jauh berbeda. Sampai akhirnya, kekalutan hatiku
disiang hari itu memuncak seketika. Aku kemudian menghubungi @berbaginasiID
untuk minta izin mendirikan komunitas yang serupa di kota ini. Tanggapannya tentu
saja luar biasa. Hari itu, 11 Februari 2013, aku memberanikan diri membuat
sebuah akun yang hari ini tepat 3 tahun umurnya; @Berbaginasi_PTK. Kota pertama
di Pulau terbesar Nusantara yang menjawab salam dari mereka yang telah memulai duluan
aksi serupa.
Hei, ini hanya sejarah. Kalian mulai bosan? Mmmm... Baiklah
kita masuk ke bagian yang paling aku suka.
14 Februari 2013, bertepatan dengan event Nasional “Hari
Nasi Sayang” yang digelar Berbaginasi Nusantara di kota masing-masing kami
mulai melancarkan aksi. Menabung (membagikan nasi bungkus) pertama di bawah
bendera Berbaginasi Pontianak. Jika mengingat hari itu, aku selalu susah makan.
Itu kali pertamanya aku berdiri di depan beberapa orang dewasa, menjelaskan
kepada mereka sebuah misi, sampai mengatur strategi. Ditepi jalan utama kota,
di sebuah parkiran Bank, dan kurang dari sepuluh orang, kami siap berperang.
Kurang dari sejam, misi akhirnya usai. Pulangnya, kami konvoi sambil bernyanyi
ala anak SMA kelulusan. Terdengar gila, tapi begitulah adanya. Terlewat sudah
salah satu malam yang luar biasa.
Tahun pertama, karena kordinasi yang kurang mesra, atau uang
habis beli pulsa, gerakan ini hampir saja tutup usia. Beberapa bulan hilang
kabar, semangat itu kembali berkibar. “ProklaNASI” 2013 titik balik kami,
Pejuang pecah 50-60 orang. Walau akhirnya minggu depannya kami memutuskan untuk
melakukan aksi dua minggu sekali, kami sangat puas dengan pencapaian itu.
Konsisten adalah kunci, dan yang terpenting kuatnya rasa peduli. Sampai
akhirnya hari ini. Berapa rekor pencapaian terbaik pejuang dan amunisi? Sungguh
aku tak peduli. Yang aku senangi hanya sampai saat ini, ponselku masih
berdering oleh semangat untuk berbagi. Ahhh, aku rasa sekarang saatnya ke kamar
mandi. *nangis batu*
Oke, cukup yaaaa...
Masih banyak sebenarnya rasa yang ingin dibagi disini.
Berhubung saya belum mandi dari pagi dan takutnya kalian mulai mual karena
menahan muntah dari tadi, baiknya aku akhiri.
Dan hei, aku tak sebijak dulu. Jadi jangan berharap aku
membuat semangat kalian berapi-api lagi.
Aku hanya ingin bilang, aku menyayangi kalian tanpa
terkecuali. Eh, aku sudah bilang ya di atas. Bodo amat.. -__-
Salam kenal buat yang belum kenal, salam rindu buat yang
mengenalku lebih dulu, dan salam super buat pak Mario Teguh. Hehehehe...
Pejuang boleh datang dan pergi, tapi rasa berbagi jangan
berhenti apalagi mati.
Dari Aku,
Andy. (Pejuang nasi yang selalu alpa di daftar absen)
PS: Aku rasa persentase ketidakhadiranku di Nasiv3rsary sebesar
90%. Tapi aku selalu berharap Tuhan mau melancarkan 10% niatku untuk hadir.
Mohon maaf untuk itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar