Perbedaan Itu (bukan) Kita
Selamat siang dan jangan lupa tersenyum.
Aku pernah bilang bukan, bahwa senyummu itu sangat manis dan
bisa membuatku tidak makan. Bolehlah sekarang kau tersenyum sebelum membaca
surat ini, karena aku sedang diet. Aku harus mengecilkan perutku agar tak malu
jika mau melatih renang di kolam renang. Atau jika kau mau, kau bisa tertawa.
Maka besok aku harus puasa seharian. Hehehe...
Aku hanya ingin membuat surat ini tidak sesedih yang kau bayangkan.
Kita sama-sama setuju bahwa kesedihan yang berlarut tidak baik dan selalu
berdambak buruk. Aku tak mau bersedih seperti sore itu, dan kuharap kau juga
begitu. Biarlah taman itu menjadi saksi bahwa saat tangan kita saling merelakan
antara satu dengan yang lainnya, hati kita tetap saling menggenggam. Air mata
itu tandanya, tanda tidak rela. Namun begitulah adanya. Takdir selalu punya
jalannya sendiri, dan seringkali bersimpangan dengan mimpi. Tak usah kau
menangis lagi, kau patut bahagia dengan pilihan mereka. Karena bahagialah yang
jadi harapan mereka, dan belakangan menjadi harapanku juga.
Kau masih ingat angin akhir Agustus itu? Di tepi lautan kita
duduk berdua. Diam tak bersuara. Hanya melempar jauh sauh pandangan ke tengah
laut sana. Mencari ketenangan dari debur ombak yang berirama tak senada. Tangan
kananku dan tangan kirimu saling bercumbu, sedangkan tangan kita yang lain
memegang benda yang serupa tapi tak sama; tasbih dan rosario. Entah apa yang
kita ucapkan dalam hati saat itu. Aku hanya berdoa semoga waktu dihentikan,
biar kita bisa terus menikmati senandung dari laut yang tiada habisnya. Satu
dua jam berlalu, kita masih bisu tanpa aksara. Hingga tak sadar, mata kita yang
bicara. Air mata tumpah ruah berjelaga menyusuri lekuk wajah. Mengaburkan
pantulan matahari laut yang mulai jingga. Kemudian kita sama-sama tersadar oleh
sesuatu. Mimpi kita telah jauh digulung ombak ke tengah, timbul-tenggelam lalu
senyap ditelan samudra.
Apa kabar Ayahmu? Semoga dia selalu dalam lindungan Tuhan
Yang Maha Esa. Jangan kau terlalu membencinya, karena aku juga tak membencinya.
Dia salah satu orang dengan prinsip yang luar biasa. Jika mengingat kata-kata
yang dia ucapkan padaku, aku selalu tahu kalo dia orang yang kuat, keputusannya
mutlak, tak bisa diganggu gugat. Memang seperti itu seharusnya pemimpin rumah
tangga. Aku tak menyesal sedikitpun datang padanya malam itu. Walau aku
akhirnya kalah dalam dialog tak seimbang, sesungguhnya cinta kita yang telah
menang. Tak banyak kata yang bisa kucerna darinya selain pupusnya harapan
bertemu baik dengannya sebagai calon menantu dan calon mertua. Lidahku juga
kelu saat air matamu jatuh. Ah, mengapa kau menangis waktu itu, bukankah kau
selalu tahu bahwa aku tak berdaya saat kau menangis pilu.
Saat itu aku pulang dengan kepala tegak. Sekali lagi aku
tegaskan padamu, saat itu aku tidak kalah. Justru aku bahagia. Belum pernah aku
sebegitu gila memperjuangkan cinta, apalagi sampai datang untuk memohon dan
meminta. Walau akhirnya aku tak menang, setidaknya aku sudah berjuang. Dan
kerasnya pendirian keluargamu aku anggap sebagai musuh yang luar biasa. Matamu
yang berkaca adalah pialanya. Aku tidak kalah, dan itu tak terbantahkan. Buktinya
mereka sampai menyuruhmu pindah kota hanya karena mereka takut berhadapan
denganku lagi.
Ku dengar kau sudah berdua bersama dengan pilihan orang
tuamu. Siapa dia? Panjaitan? Sinaga? Situmorang? Semoga dia bisa mencintaimu
lebih dari aku mencintaimu. walau aku ragu dan kurasa itu tak mungkin. Tapi aku
selalu berharap kau mencintainya seperti kau mencintaiku. Bagaimanapun juga,
hanya dia sekarang yang bisa menjagamu. Aku hanya bisa menjagamu lewat do’aku
kepada Tuhanku. Semoga kau selalu dalam lindungan-Nya, dan bahagia tentunya.
Mungkin kemarin kita yang terlalu gila. Mencoba bersama
walau tahu tembok yang harus kita lewati menjulang ke angkasa. Ini bukan lagi
soal keluarga dan strata. Tapi juga soal agama, iman dan taqwa. Walau akhirnya
kita memaksa untuk hidup berdua, tentu akan selalu ada masalah. Walau kita juga
tau, masalah apapun selalu lunas tuntas oleh sebuah pelukan saja. Kita telah
salah jika menganggap tak ada yang bisa memisahkan kita. Karna sesungguhnya,
dunia ini milik-Nya. Kita hanya menjalankan skenario dari Yang Maha Sutradara. Walau
tak bahagia akhirnya, jalan menuju perpisahan itu selalu indah. Dan aku selalu
ingin mengulangnya.
Aku merindukanmu, mungkin kita bisa bertemu. Menceritakan
masa lalu, dan kembali mengungkapkan mimpi di masa depan.
Sebagai aku dan kamu, bukan sebagai kita.
PS: Titip salam kepada Tuhanmu, katakan pada-Nya; Jika
memang kita tak bisa disatukan di dunia, mungkin kita bisa dipertemukan di
surga. Bukan sebagai aku dan kamu, tapi sebagai kita.
Komentar
Posting Komentar